Quick Count Punya Kelemahan

Metode hitung cepat atau quick count pertama kali di terapkan di Indonesia pada Pemilu 2004 lalu. Waktu itu masyarakat begitu kagum dan terheran-heran karena hasil pemilu bisa diketahui hanya dalam hitungan beberapa jam. Sementara Komisi Pemilihan Umum -KPU- membutuhkan waktu hampir sebulan untuk menetapkan hasil resminya. Yang kemudian membuat masyarakat semakin heran adalah hasil akhir tersebut tidak jauh beda dengan hasil hitung cepat.

Bagaimana sebenarnya metode hitung cepat tersebut dilakukan? Seberapa tinggi akurasinya? Dapatkah digunakan sebagai penentu akhir? Apa saja kelemahannya? Bagaimana masyarakat harus menyikapi hasil survey dan hitung cepat tersebut?

quick-countSebuah lokakarya berjudul “Understanding Figures Behind Surveys and Quick Counts” telah menjawab semuanya. Lokakarya tersebut dilaksanakan oleh National Democratic Institute bersama National Press Club Indonesia, Selasa (03/03/09), di Ruang Brawijaya 3 Novotel Surabaya. TPC diwaliki oleh Budiono selaku Content Development mendapatkan kesempatan untuk hadir mengikuti acara tersebut bersama para redaktur dan wartawan berbagai media di Surabaya.

Anastasya S Wibawa menjelaskan bahwa Survey dan Quick Count pada dasarnya adalah metode ilmiah yang digunakan untuk mengetahui hasil akhir pemilu dengan cara sampling. Pada survey biasanya responden perorangan dipilih secara acak dan diminta untuk memjawab sekian pertanyaan. Pada Quick Count yang menjadi responden adalah TPS. Ditentukan dulu TPS mana yang akan dijadikan sample, kemudian hasilnya diolah dan keluarlah angka akhir berdasarkan quick count.

Hasil quick count bisa dijadikan pembanding dan alat kontrol terhadap hasil pemilu. Dengan margin of error yang sudah ditentukan sebelumnya maka bisa dilihat peluang para kandidat untuk memenangkan pemilu. Namun demikian jika selisih perolehan suara lebih kecil dari margin of error maka sulit untuk menentukan siapa pemenangnya. Hal ini pernah terjadi pada Pilkada Jatim putaran ke-2. Lembaga survey akhirnya tidak berani memastikan siapa yang akan keluar sebagai pemenang karena selisih suara hasil quick count kurang dari 1% sedangkan margin of errornya 3%.

Meskipun memiliki tingkat akurasi yang tinggi, namun hasil quick count tidak bisa digunakan sebagai penentu akhir. Keputusan akhir tetap berada di tangan KPU memalui rekapitulasi perhitungan manual. Oleh karena itu masyarakat harus mendudukkan hasil quick count hanya sebagai pembanding saja.

Pemilu 2009 akan segera datang April nanti. Dipastikan banyak lembaga survey yang akan mengeluarkan prediksi-prediksi. Setelah pemilu dilaksanakan juga akan banyak yang merilis hasil quick count. Masyarakat harus cerdas menyikapi itu semua. Mari sama-sama memantau pelaksanaan pemilu tersebut. Angka-angka yang keluar tidak akan ada artinya jika prosesnya tidak dilaksanakan dengan baik.

dikutip dari tugu pahalawan.com

Ditulis dalam news. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: