Kesaksian Korban Selamat Pesawat Hercules

Benar-benar ajaib. Dua bocah kakak-adik berusia 1,5 tahun dan 4 tahun, Anggun Putri Aulia dan Angga, selamat dalam kecelakaan pesawat Hercules yang jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jatim, Rabu (20/5).

herculezAnggun dan Angga mengalami luka memar dan lecet di beberapa bagian tubuhnya. Hingga Kamis (21/5) kedua balita ini masih belum sadarkan diri. Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Suwarno, kemarin menjenguk mereka.

Kedua balita tersebut tergeletak di antara puluhan penumpang yang terpanggang di pesawat Hercules C130. Anggun dan Angga berada di tengah-tengah ibu dan kakaknya yakni Ny Lemi dan Ardila (7), yang ditemukan telah gosong.

Diperkirakan Angga lepas dari pangkuan Lemi. Namun Lemi terus melindungi anak ketiganya tersebut. Lemi adalah istri Asep, anggota TNI yang tinggal di Jakarta. Keluarga ini naik Hercules TNI AU untuk pulang ke Maospati, Magetan. Dalam perjalanan pulang ini, Asep tidak ikut.

Bersama puluhan penumpang lain, jenazah Lemi dan Ardila dijadikan satu di ruang parkir RS Lanud Iswahyudi, sedangkan Angga dan Anggi langsung dirujuk ke RSUD dr Soedono, Madiun.

Saat Warta Kota menjenguk Angga, dia dalam keadaan tak sadarkan diri di ICU RSUD dr Soedono. Begitu juga Anggun. ”Tidak tahu bagaimana memberi tahu Anggun bahwa kakak dan ibunya telah meninggal,” ujar Khoirul (22), paman Anggun, sambil terus menjaga keponakannya di ruang perawatan kamar 401.

Selain ibu dan putrinya ini, banyak pasangan suami-istri yang tewas terpanggang. Di antaranya Marsma Harsono bersama istrinya Ny Deti Harsono. Marsma Harsono ini dari Kesatuan Patimura. Suwito dan istrinya, Supiati, juga tewas.

Sementara itu, mulai pukul 13.00 Rabu lalu, jenazah yang sudah dikenali keluarganya langsung dibawa pulang. Tidak mudah mengenali korban karena rata-rata tubuh mereka sudah gosong. Jenazah digeletakkan di areal parkir belakang RS Lanud Iswahyudi.

Hingga pukul 19.00 tadi malam masih ada 32 korban tewas yang belum diketahui identitasnya. Mereka hanya dikenali dari asesoris yang mereka kenakan. Di antaranya ada hanya teridentitifikasi melalui jam tangan Citizen. Ada juga yang dikenali dari tulisan pada cincin melingkari jarinya.

Kesulitan identifikasi tidak hanya atas korban meninggal. Korban selamat yang masih dalam perawatan intensif juga ada empat yang belum teridentifikasi. Banyak keluarga yang masih menanyakan keberadaan anggota keluarganya.

Penumpang dikocok

Pesawat Hercules yang dipiloti Mayor (Pnb) Danu ini membawa 110 penumpang. Menurut Komandan Lanud Iswahyudi, Marsekal Pertama Bambang Samudra, mereka terdiri atas 11 kru dan 99 penumpang. Pesawat ini jatuh menimpa dua rumah di Desa Geplak.

Belum jelas penyebab jatuhnya pesawat angkut TNI ini. Masalah kelaikan terbang dan overload penumpang diduga menjadi pemicunya. Namun hal ini dibantah keras Bambang. ”Pesawat ini selalu dicek secara berkala. Jadi masih laik terbang,” jelas Bambang.

Menurut Bambang, pesawat mulai menemui kendala saat terbang di posisi 1.000 feet. Tiba-tiba pesawat ini terbang rendah hingga bagian badan pesawat menghantam pohon. ”Bagian pesawat yang patah adalah eleron,” ujarnya.

Kemudian pesawat tersebut langsung menghantam pohon bambu. Setelah sekitar 700 meter, pesawat itu terjungkal dan terbakar. Sebenarnya kapten pilot telah berhasil melakukan komunikasi pada ketinggian 1.000 feet tersebut.

Bambang menolak dikatakan ada human error. Dia berdalih soal kemungkinan-kemungkinan tersebut masih dialami.

Pesawat Hercules C130 yang terbakar tersebut berangkat dari Lapangan Udara Halim Perdanakusuma pukul 05.00. Rute yang ditempuh adalah Jakarta menuju Madiun, Makassar, Kendari, dan berakhir di Biak.

Pangdam V Brawijaya Mayjend TNI Suwarno kepada wartawan menegaskan tak ada overload dalam pesawat nahas tersebut. Soal banyaknya penumpang sipil dalam pesawat, Suwarno menyatakan boleh-boleh saja. ”Tidak salah keluarga TNI ikut. Dulu saya juga pernah menumpang pesawat yang sama,” katanya.

Beberapa penumpang selamat yang ditemui Warta Kota menjelaskan, para penumpang terus dikocok-kocok di dalam pesawat. Tidak hanya ke badan pesawat, di antara penumpang saling tindih dan berbenturan. Jeritan histeris dan menyebut asma Allah saling bersahutan.

Serka Susanto mengatakan bahwa dirinya bersama penumpang yang lain terus diombang-ambingkan di dalam pesawat selama lebih dari lima menit. ”Tiba-tiba pesawat menukik dan jatuh. Saat itu saya langsung tak sadarkan diri,” ucap Susanto dengan suara lirih sebelum akhirnya dipindah dari UGD RSUD dr Soedono ke ruang ICU.

Mur berjatuhan

Sejumlah saksi mata menyebutkan, dua kilometer sebelum pesawat Hercules Force C-130 A 1325 milik TNI AU jatuh dan meledak, mereka melihat beberapa mur dari pesawat berjatuhan. ”Sebelum pesawat menukik dan meledak, warga Desa Patihan banyak yang menemukan mur pesawat tersebut berjatuhan,” ujar Agus (36), warga Desa Patihan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan.

Beberapa detik kemudian pesawat menimpa dua rumah, antara lain rumah pasangan suami-istri Sulasmin (45) dan Katemi (35). Sulasmin dan anak keduanya, Arief Wahyudi (14), serta tetangganya, Sumiatin (43), meninggal dunia tertimpa reruntuhan rumah. Pesawatnya sendiri kemudian meledak di pesawahan.

Komisi Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Udara (KPKPU) yang dikoordinatori Kolonel Deddy NK yang datang Kamis (21/5) bersama rombongannya dari Jakarta mengaku belum dapat menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut.

Menurut Dedy, pihaknya akan mengumpulkan keterangan saksi, kronologi kejadian lewat beberapa tanda berjatuhannya serpihan pesawat, serta pepohonan dan rumah yang rusak. Mengenai kondisi pesawat, yang mengetahui hanya pihak skuadron. (Surya)

Terlempar 20 Meter Dari Pesawat

Prajurit Dua (Prada) Saputra sedang tidur saat pesawat Hercules C 130 celaka di Lanud Iswahyudi, Rabu kemarin. Saat sadar dia merasa terlempar 20 meter dari pesawat dan langsung ditolong warga.

“Sebelumnya saya cuti selama 12 hari di kampung halaman saya di Pontianak. Setelah itu saya mau balik dinas lagi ke Biak. Dari Pontianak ke Jakarta menumpang pesawat reguler atau sipil,” kisah Saputra sebelum dirinya menaiki pesawat naas tersebut.

Pria lajang 24 tahun itu pun lantas kebagian duduk di bagian belakang dekat ekor pesawat. Kendati tak tahu persis jumlah pesawat, Saputra mengingat banyak anak kecil di dalam pesawat itu. Saat kejadian dirinya mengaku sedang tidur.

“Saat kejadian saya nggak tahu apa-apa karena saya tidur. Tahu-tahu saya sudah terlempar 20 meter dari pesawat. Saya sadar cuma badan saya terasa berat,” ujar anggota Satuan Radar 242 Biak Papua ini.

Saat sadar itulah dirinya melihat seorang wanita yang tangannya berlubang dan dalam kondisi masih hidup. Dirinya berniat menolong namun apa daya, tubuhnya terasa berat.

“Saya mau menolong cuma badan saya malah terasa berat. Karena ngggak bisa berbuat apa-apa saya bingung, saya teriak minta tolong,” imbuh warga Raya Kuala, Sungairaya, Pontianak, Kalimantan Barat ini.

Spontan dirinya ditolong warga berama-ramai dan dibawa ke rumah warga. 15 Menit kemudian barulah warga membawanya ke rumah sakit.

“Syukur Alhamdulillah saya masih selamat. Tapi saya juga berduka karena di pesawat itu banyak yang meninggal dunia,” ujarnya.DETIKOM

Selamat, Duduk Di ekor Pesawat

Ada beberapa penumpang yang selamat dalam pesawat Hercules C 130 yang jatuh di Magetan, Rabu kemarin. 2 Penumpang di antaranya duduk di bagian dekat ekor pesawat.

“Posisi saya duduk di sebelah kanan, dekat ekor. Tapi saya tidak merasakan apa-apa tahu-tahu saya sudah di rumah sakit,” ujar salah satu penumpang pesawat Serma Rudi Iswanto (39).

Rudi menceritakan hal itu di RS Lanud Iswahyudi, Magetan, Jawa Timur, Jumat (21/5/2009).

Anggota Kosek IV Biak Papua sejak 2 tahun lalu ini mengalami luka sobek di bagian kepala atas bagian kanan. Dirinya tak henti mengucap syukur karena masih diberikan kesempatan hidup.

“Kalau bagi pesawat ini memang musibah, tapi bagi saya, saya mengucapkan syukur Alhamdulillah dan ini anugerah karena saya masih selamat,” ucapnya.

Sedangkan survivor lainnya, anggota Satuan Radar 242 Biak Papua Prada Saputra mengatakan dirinya juga duduk di belakang pesawat itu.

“Belakang dekat ekor. Ya syukur Alhamdulilah saya masih selamat. Tapi saya juga berduka karena di pesawat itu banyak meninggal dunia,” katanya penuh syukur.DETIKOM

Ditulis dalam tragedi. Tag: , . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: