Siswa Tidak Lulus di Gresik Meningkat

GRESIK | SURYA Online – Jumlah siswa yang tidak lulus dalan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA di Kabupaten Gresik tahun ini meningkat. Jika tahun lalu hanya delapan siswa yang tidak lulus, tahun ini mencapai 259 siswa yang tidak lulus atau 2,35 persen dari 10.978 peserta UN.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Chusaini Mustaz, Senin (15/6), menyebutkan, peserta peserta UN dari SMA sebanyak 5.618 tidak lulus 73, dari SMK 2.390 tidak lulus 12 dan dari MA 2.970 tidak lulus 174. Kali ini beberapa siswa dari sekolah favorit di Gresik juga tidak lulus, yakni dari SMA Negeri 1 Gresik dua siswa tidak lulus satu dari program IPS dan satu dari program IPA. Bahkan satu diantara yang tidak lulus telah diterima di Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).

Sementara dari Manyar satu siswa program IPS tidak lulus, SMA Kebomas satu siswa program IPA, SMA Menganti satu siswa program IPS dan satu siswa program Bahasa. Adapun dari SMAN 1 Cerme empat siswa program Bahasa tidak lulus. “Khusus siswa SMAN 1 Manyar dia memaksakan ujian saat kondisinya sakit, padahal sudah disarankan ikut ujian susulan saja,” kata Mustaz.

Kondisi sekolah swasta lebih parah lagi. Peserta UN dari SMA Islamiyah Kecamatan Tambak ada 40 siswa yang tidak lulus. Dari 22 program IPA hanya lulus 2 orang. Padahal rata-rata nilai Bahasa Indonesia 7,71, Bahasa Inggris (7,33), Fisika (7,930 Kimia (7,92 ) dan Biologi (7,11). Yang hancur nilai rata-rata Matematika 2,82, jelas Mustaz didampingi Kepala Subdinas SMA/SMK Ali Affandi.

Sedangkan di SMA Muhamamadiyah 4 Sidayu tidak lulus 20 siswa, yakni dari IPA 10 tidak lulus dari 17 peserta dan dari IPS 10 tidak lulus dari 21 peserta UN. Untuk jurusan IPA nilai rata-rata Matematika 3,82, padahal rata-rata nilai lainnya cukup tinggi Bahasa Inggris (8,550, Kimia (8,32), Fisika (7,72), Bahasa Indonesia (5,69). Sedangkan nilai rata-rata jurusan IPS Matematika (9,94), Bahasa Inggris (7,84), Ekonomi (8,01), Geografi (6,21), Sosiologi (5,520 dan Bahasa Indonesia (5,31).

“Kalau dilihat dari angka-angka itu penyebab ketidaklulusan Matematika, Bahasa Indonesia atau mungkin Sosiologi. Tetapi ada informasi bahwa siswa percaya jawaban lewat SMS. Setelah usai UN sekitar pukul 15.00 baru diberitahu jawaban itu salah,” kata Mustaz.

Mustaz mengimbau agar ke depan siswa tidak percaya pada layanan pesan pendek (SMS) atau bentuk apa pun untuk memengaruhi jawaban UN. Kondisi paling parah dialami Madrasah Aliyah Mambaus Sholihin karena dari 118 peserta UN jurusan Bahasa tidak lulus semua.

Terkait meningkatnya angka ketidaklulusan UN dari siswa SMA di Gresik Ketua Komisi D Syafiqi Mahfudz Zein mengatakan agar Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik mengajukan surat permohonan ke Departemen Pendidikan Nasional agar siswa yang tidak lulus diberi kesempatan UN ulang bukan mengikuti Ujian Kejar Paket C. “Alasannya di 33 sekolah yang dianggap curang saja diberi kesempatan UN ulang kok, masa yang tidak lulus tidak diberi kesempatan,” kata Syafiqi.

Dia menambahkan jebloknya hasil UN kali ini seharusnya menjadi koreksi dan evaluasi semua pihak terhadap sistem pendidikan di Indonesia. “Masa pendidikan selama tiga tahun hanya kelulusannya ditentukan tiga hari UN. Ini tidak adil, yang tahu prestasi siswa kan sekolah dan gurunya. Kayak begini ada siswa yang prestasinya selama ini di atas rata-rata malah tidak lulus,” ujarnya.

Menurut Syafiqi sistem UN merugikan siswa karena pertimbangan faktor kelulusan hanya dari aspek kognitif tidak mempertimbangkan moral dan mental mereka. “Selama ini sistem pendidikan dibangun dengan kebohongan baik lewat sertifikasi guru maupun UN. Dengan sertifikasi gurunya bisa memanipulasi data untuk portopolio, sedangkan UN berpotensi menimbulkan kecurangan,” katanya.

Sementara itu ada Kepala SMA yang menyampaikan keinginan siswa untuk merujuk silang lembar jawaban komputer UN karena siswanya tidak percaya kalau tidak lulus. Namun keputusan boleh tidaknya merujuk silang LJK menjadi wewenang Pusat Penilaian Pendidikan. Namun, Kepala Dinas Pendidikan Gresik Chusaini Mustaz akan menyampaikan aspirasi Komisi D maupun Kepala Sekolah dengan surat ke Depdiknas.

Meskipun demikian dia berpendapat agar siswa yang tidak lulus sebaiknya mengikuti Ujian Kejar Paket C yang dijadwalkan 23 Juni nanti. Kalau menunggu UN ulang atau merujuk silang LJK bisa malah tidak bisa ikut Ujian Kejar Paket C. “Ya kalau usul itu disetujui, kalau tidak kan malah nggak dapat dua-duanya. Kan kasihan. Tetapi kami berharap ijazah Kejar Paket C cepat dikeluarkan agar bisa digunakan untuk mendaftar kuliah atau kepentingan lain,” kata Mustaz.

Sementara itu para siswa di Gresik melihat pengumuman kelulusan secara tertutup melalui SMS, online melalui internet. Bahkan bagi yang tidak lulus pihak sekolah atau wali kelas langsung mendatangi rumah siswa agar tidak terpukul.

Sejumlah siswa di SMAN 1 Gresik bahkan membawa komputer jinjing untuk melihat hasil UN. Sebagian lagi ada yang melihat pengumuman lewat warung internet. Meskipun dilarang masih ada siswa yang meluapkan kegembiraan setelah lulus dengan berlebihan dengan sa ling mencoret baju seragamnya. aci/kcm

Ditulis dalam news. Tag: , , . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: